Bangun Jiwa Kepemimpinan Generasi Muda, HMP PBI UNSIQ Adakan Youth Workshop Bersama SMK Takhassus Al-Qur’an Wonosobo
Di tengah tantangan organisasi remaja yang semakin kompleks, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (HMPS PBI) menghadirkan ruang belajar kepemimpinan melalui kegiatan Youth Workshop bertajuk “Lead with Impact and Real Action” pada Senin (11/5) di Gedung Pascasarjana UNSIQ 1. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 30 anggota OSIS SMA Takhassus Al-Qur’an Wonosobo dengan tujuan meningkatkan pemahaman dasar mengenai organisasi dan kepemimpinan yang efektif.
Sejak awal acara, suasana workshop berlangsung interaktif. Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan penyampaian materi oleh Ketua BEM Fakultas Bahasa dan Sastra, Reva Nahdatun Nisaa, yang membahas berbagai persoalan nyata dalam organisasi remaja masa kini. Sesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab yang dimoderatori oleh Rafka Faeza Albani sebelum akhirnya ditutup dengan penyerahan sertifikat secara simbolis dan foto bersama.

Ketua Panitia, Rika, menjelaskan bahwa tema “Lead with Impact and Real Action” dipilih karena pentingnya menumbuhkan jiwa kepemimpinan sejak usia sekolah. Menurutnya, kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi juga kemampuan memberi dampak nyata melalui tindakan dan kerja sama.
“Leadership bukan hanya tentang memimpin, tapi bagaimana bisa memberi dampak nyata melalui tindakan dan kerja sama yang baik,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa kegiatan tersebut menjadi bentuk pengabdian HMPS PBI kepada pelajar sekaligus upaya membangun relasi antarorganisasi. Melalui workshop ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, kerja sama tim, hingga membangun karakter pemimpin muda yang aktif dan kreatif.
Dalam sesi materi, Reva Nahdatun Nisaa menyoroti persoalan yang sering muncul dalam organisasi pelajar, mulai dari miskomunikasi hingga rendahnya partisipasi anggota. Menurutnya, masalah tersebut menjadi tantangan besar bagi organisasi generasi muda saat ini.
“Yang paling krusial itu pasif. Makin lama anak remaja zaman sekarang ketika masuk organisasi itu pasif, hanya numpang nama atau tidak pernah ikut rapat,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya komunikasi yang jelas antara ketua dan anggota untuk menghindari kesalahpahaman dalam organisasi. Selain itu, pendekatan personal juga dinilai penting untuk membantu anggota yang kurang aktif agar lebih terlibat dalam kegiatan organisasi.
“Kalau ada anggota yang pasif, kita dekati pelan-pelan sebagai teman dulu. Dari situ baru kita tahu masalah mereka dan menemukan solusinya,” tambahnya.
Tak hanya membahas problem organisasi, Reva juga menyampaikan gambaran mengenai sosok pemimpin yang baik. Menurutnya, seorang pemimpin tidak harus sempurna secara akademik, melainkan memiliki pola pikir berkembang (*growth mindset*), kemampuan komunikasi yang baik, serta keseimbangan antara soft skill dan hard skill.
“To be good leader, seseorang harus punya good mindset, good communication, bisa problem solving, dan making decision,” katanya.
Materi yang disampaikan mendapat respons positif dari peserta. Salah satu peserta sekaligus Ketua OSIS SMA Takhassus Al-Qur’an, Nur Fahri Hidayat, mengaku workshop tersebut memberikan banyak pelajaran baru mengenai kepemimpinan dan organisasi.
“Saya jadi lebih paham kalau dalam organisasi harus menghindari miskomunikasi karena itu bisa menjadi masalah besar,” ungkapnya.
Ia juga menilai penyampaian materi oleh pemateri berlangsung menyenangkan dan mudah dipahami sehingga peserta tidak merasa bosan selama kegiatan berlangsung.
“Kami tidak merasa ngantuk atau bosan karena pembawaannya menyenangkan dan semangat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fahriberharap ilmu yang diperoleh dari workshop tersebut dapat diterapkan dalam organisasi di sekolahnya. Ia ingin anggota OSIS di sekolahnya menjadi lebih aktif dan terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi.
“Saya ingin anggota OSIS ke depannya tidak pasif dan bisa lebih aktif lagi dalam organisasi,” katanya.
Meski pelaksanaan workshop memiliki keterbatasan waktu, kegiatan tersebut tetap menjadi ruang pembelajaran yang bermakna bagi peserta. Selain memberikan materi dasar kepemimpinan, workshop ini juga membuka peluang kerja sama berkelanjutan antara HMPS PBI dan OSIS SMA Takhassus Al-Qur’an dalam mendukung program-program organisasi pelajar di masa mendatang.
Kegiatan Youth Workshop akhirnya tidak hanya menjadi agenda pelatihan biasa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa organisasi yang sehat lahir dari komunikasi yang baik, kepemimpinan yang berdampak, serta keberanian generasi muda untuk terlibat aktif dan bertanggung jawab dalam lingkungan sekitarnya.



