Diskusi Kamisan HMP Ilmu Al-Qur'an & Tafsir "Flexing & Fomo: Bukti Pencapaian atau Sekedar Jebakan Eksistensi"
Kembali ke Berita
UmumAkademikKegiatan MahasiswaOrganisasiHimpunan

Diskusi Kamisan HMP Ilmu Al-Qur'an & Tafsir "Flexing & Fomo: Bukti Pencapaian atau Sekedar Jebakan Eksistensi"

22 Apr 2026 HMP Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Diskusi Kamisan HMP Ilmu Al-Qur'an & Tafsir "Flexing & Fomo: Bukti Pencapaian atau Sekedar Jebakan Eksistensi"

Wonosobo, 23 April 2026 — Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Diskusi Kamisan sebagai upaya menghidupkan tradisi akademik di kalangan mahasiswa. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dalam mengkaji berbagai isu keislaman.

Pada pertemuan kali ini, diskusi mengangkat tema “Flexing & FOMO: Bukti Pencapaian atau Sekadar Jebakan Eksistensi.” Materi disampaikan oleh Dr. Arif Al Wasim selaku Kepala Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Pemateri memaparkan materi secara sistematis, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi terbuka. Para peserta terlihat aktif dalam menyampaikan pandangan serta memberikan analisis kritis terhadap topik yang dibahas.”

2 (2).png

"Flexing & Fomo: Bukti Pencapaian atau Sekedar Jebakan Eksistensi"

Di era media sosial, fenomena flexing dan FOMO menjadi hal yang sulit dihindari. Melalui Diskusi Kamisan, kedua hal ini dibahas sebagai bagian dari realitas yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. FOMO (fear of missing out) muncul sebagai rasa takut tertinggal, sedangkan flexing menjadi cara seseorang menunjukkan pencapaiannya.

Kedua fenomena ini pada dasarnya bukan hal baru, namun kehadiran media sosial membuatnya semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Tidak semua individu yang melakukan flexing mengalami FOMO, begitu pula sebaliknya. Keduanya dapat berdiri sendiri, tetapi juga memiliki keterkaitan dalam kondisi tertentu.

Dalam kehidupan sosial, flexing dan FOMO memengaruhi cara pandang seseorang. Muncul kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, yang kemudian menimbulkan tekanan sosial, rasa tidak cukup, serta dorongan untuk mendapatkan pengakuan.

Lalu, apakah semua yang kita lihat benar-benar mencerminkan kenyataan?

Di sisi lain, flexing tidak selalu bermakna negatil. Dalam batas tertentu, hal ini dapat menjadi bentuk apresiasi diri dan motivasi bagi orang lain. Namun, ketika dilakukan untuk mencari pengakuan, flexing dapat berubah menjadi ajang pamer dan memicu FOMO, sehingga mendorong seseorang mengikuti standar yang tidak realistis.

Pada akhirnya, flexing dan FOMO bukan sekadar tren, melainkan fenomena sosial yang perlu disikapi dengan bijak. Penting untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta tidak mudah terbawa arus media sosial agar kehidupan dapat dijalani dengan lebih seimbang.

Pesan dari Kepala HMP Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa Diskusi Kamisan bertujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan memperluas wawasan keilmuan mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk membiasakan mahasiswa dalam tradisi ilmiah yang argumentatif dan dialogis. Tidak hanya sebagai forum ilmiah, Diskusi Kamisan juga menjadi ruang kebersamaan antar mahasiswa.

Suasana diskusi yang terbuka mendorong setiap peserta untuk berani berpendapat serta menghargai perbedaan pandangan. Dengan adanya kegiatan ini, HMP Ilmu Al-Qur’an UNSIQ berharap dapat mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam bidang keilmuan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta kemampuan analisis yang mendalam. Ke depan, kegiatan ini akan terus dilaksanakan secara rutin setiap pekan dengan tema-tema yang lebih variatif dan aktual.

#Mahasiswa